MIYABI. Perempuan asal Jepang ini tiba-tiba menjadi buah bibir banyak kalangan, mengaburkan sejenak kabar berita duka pasca gempa serta kasus politik sekelas Antasari.
Kontroversi kedatangan Miyabi yang cupu ini membuat saya tersenyum saat membaca beberapa berita seputar reaksi kedatangan menyambut sang ratu film biru, Maria Osawa. Berlebihan dan ironis tepatnya, masyarakat Indonesia ternyata sulit berbesar hati, menerima orang lain sebagai sama derajatnya sebagai manusia, bukan apa yang dia kerjakan.
Bisa dipastikan, Miyabi menjadi fenomena baru pasca heboh seputar haramisasi Facebook beberapa waktu lalu. Terbukti, saat berita Facebook bakal diharamkan, orang2 justru berbondong2 bermain Facebook, tak terhitung dari anak kecil hingga orang dewasa membuat account Facebook. Kejadian bakal berulang dengan kontroversi Miyabi, hampir bisa dipastikan orang2 yang penasaran kemudian mencari tahu siapa Miyabi, tapi bisa jadi akhirnya justru menikmati.
Negara ini memang kadang lucu, suka panik dengan hal-hal yang sebenarnya tidak fundamental. Saya tidak menemukan kedatangan Miyabi bisa merusak moral bangsa, jauh sebelum Miyabi berencana datang ke Indonesiapun, jutaan video porno, bisnis prostitusi, dan lalu lintas bisnis selangkangan sudah terlalu banyak terjadi di Indonesia. Miyabi sejatinya adalah pribadi yang kemudian memilih profesi sebagai bintang film biru. Porno atau tidaknya itu tergantung dari mindset kita masing masing.
Kadang berpikir, boleh juga mata pelajaran atau mata kuliah Pornografi dijadikan salah satu materi pendidikan, supaya orang Indonesia sendiri bisa membuat mind map tentang pornografi dalam istilah Indonesia. Sekarang masih simpang siur pastinya, dan membuat kesimpulan yang spekulatif.
Mungkin sebaiknya orang2 Indonesia tidak melulu ngeres pikirannya, kalau kita beragama saya yakin, agama tidak mengajarkan kita membenci umat manusia karena sejatinya kita sama di mata Tuhan, dan penghakiman sejati hanyalah saat di akherat.